Lebaran yang Dijaga, Bukan Sekadar Diamankan

oleh -Post Views 16

Oleh: Agus Ismunarno
Cakraputra
Pemimpin Redaksi
AQUILA Media Group
*) The Journey of Life

LEBARAN selalu datang dengan dua wajah:
yang tampak adalah kegembiraan,
yang tersembunyi adalah kerentanan.

Di jalan-jalan yang padat,
di pelukan keluarga yang lama terpisah,
di riuh takbir yang menggema,
terselip satu pertanyaan sunyi:
siapa yang menjaga semua ini tetap utuh?

Di Bangka Belitung, tahun ini,
jawaban itu tidak datang dalam bentuk yang kaku.
Ia tidak hadir sebagai sosok yang menakutkan,
melainkan sebagai kehadiran yang terasa dekat.

Di bawah kepemimpinan Kapolda Irjen Viktor T. Sihombing,
kamtibmas di Babel tidak diperlakukan sebagai sekadar tugas,
tetapi sebagai ruang hidup bersama yang harus dirawat.

Sebelum Takbir Bergema: Negara Belajar Mendengar

Menjelang Idul Fitri,
langkah pertama bukanlah pengerahan kekuatan,
melainkan membuka ruang.

Izin keramaian tidak dipersempit,
melainkan diatur bersama.
Panitia tidak diawasi dengan curiga,
melainkan diajak menjadi mitra.

Di sini, negara tampak sedang belajar satu hal penting:
bahwa keamanan yang tahan lama
tidak lahir dari kontrol,
tetapi dari kepercayaan.

Di Hari Kemenangan: Saat Polisi adalah Sesama Manusia

Pada pagi Idul Fitri,
ketika langit masih menyimpan embun
dan gema takbir perlahan mereda,
terjadi sesuatu yang sederhana—
namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Santunan diberikan.
Sapaan dibagikan.

Jarak yang biasanya terasa panjang,
mendadak menjadi dekat.
Polisi tidak berdiri sebagai simbol kekuasaan,
melainkan hadir sebagai sesama manusia
yang ikut merayakan kemenangan.

Dan mungkin, di situlah makna kamtibmas yang paling dalam:
bukan hanya menjaga agar tidak terjadi apa-apa,
tetapi memastikan bahwa kebaikan tetap mengalir.

Di Tengah Arus: Strategi Menjadi Penjaga Sunyi

Lebaran bukan hanya soal perasaan.
Ia juga soal pergerakan—
arus mudik, lonjakan wisata, kepadatan jalan.

Di sinilah kerja sunyi itu berlangsung.
Ratusan personel disebar,
pos pengamanan didirikan,
jalur-jalur padat diawasi tanpa banyak suara.

Di pantai-pantai yang ramai,
di simpul-simpul jalan yang sibuk,
mereka hadir tanpa perlu terlihat menonjol.
Karena keamanan sejati memang sering kali demikian:
ia bekerja dalam diam,
namun dampaknya terasa luas.

Setelah Lebaran: Keamanan Menjadi Kepercayaan

Kita memberi apresiasi atas kinerja Tim Gabungan Operasi Menumbing Ketupat 2026 yang well prepared & done well.

Operasi Ketupat Menumbing 2026 berlangsung selama 13 hari, 13 Maret hingga 25 Maret 2025.

“Operasi gabungan Polri, TNI, Pemerintah Daerah dan stakeholder terkait dengan jumlah 1.602 personel,” tegas Kapolda Viktor Sihombing saat mengawali Operasi Ketupat Menumbing 2026 bersama Forkompimda, Gubernur Babel Hidayat Arsani dan Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya.

Ukuran keberhasilan kamtibmas bukanlah nihilnya peristiwa,
melainkan hadirnya rasa aman yang dirasakan bersama.

Dan di Bangka Belitung,
Lebaran tahun ini meninggalkan satu jejak penting:
kepercayaan publik yang menguat.

Masyarakat bergerak, berwisata, bersilaturahmi—
tanpa bayang-bayang kekhawatiran yang berlebihan.
Ini bukan hasil dari satu hari kerja,
melainkan akumulasi dari pendekatan:
preventif, humanis, dan strategis.

Lebaran yang Melampaui Hari Raya

Yang menarik, kerja itu tidak berhenti di hari kemenangan.
Ia berlanjut, menatap Paskah, Cheng Beng,
dan setiap denyut kehidupan masyarakat yang beragam.
Seolah ingin mengatakan:
kamtibmas bukan proyek musiman,
melainkan komitmen yang berkelanjutan.

Keamanan Menjadi Rasa

Pada akhirnya,
Lebaran bukan hanya perayaan sukacita kembali fitri,
tetapi merasa aman saat silaturahmi di mana-mana.

Dan keamanan yang paling hakiki
bukanlah yang terlihat di seragam,
melainkan yang terasa di hati.

Di Bangka Belitung tahun ini,
kita belajar satu hal sederhana—
namun sering terlupakan:
bahwa menjaga negeri
tidak selalu harus keras,
kadang cukup dengan hadir,
mendengar,
dan merawat kepercayaan.

Karena ketika masyarakat merasa dijaga,
mereka akan dengan sendirinya ikut menjaga.

Dan di situlah,
kamtibmas berubah dari tugas,
menjadi kesadaran bersama. Semoga!

*The Journey of Life adalah tulisan series tentang berbagai tokoh dan tema dalam rangka 35 Th Insan Pers Indonesia, 25 Th Insan Pers di Babel, 65 Th Kelahiran.

Penulis adalah wartawan utama yang pernah memimpin 7 media di 5 provinsi dan Pendiri BANGKA POS Group, Media Negeri Laskar Pelangi. Kini memimpin redaksi dan bisnis AQUILA Media Group

Tinggalkan Balasan