
AQUILA INDONESIA | RUBRIK SUARA PEREMPUAN
Di tulis oleh : NOVITA
Wartawan Media AQUILA Indonesia
Kepulauan Riau dan Batam
25 September 2026
Ada orang yang terlihat paling tenang, paling ceria, bahkan selalu menjadi tempat orang lain bercerita. Namun, justru di balik ketenangan itu bisa tersimpan banyak hal yang selama ini tidak pernah ia ceritakan.
Bukan karena ia tidak memiliki masalah, tetapi karena sejak lama ia terbiasa menyimpannya sendiri.
Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa persoalan keluarga adalah aib. Akibatnya, ketika menghadapi masalah, ia memilih diam, menutup diri, tersenyum di hadapan orang lain, lalu berusaha menyelesaikan semuanya seorang diri.
Padahal, menjaga privasi berbeda dengan memendam semuanya sendirian.
Tidak semua masalah harus diumbar kepada banyak orang. Tetapi tidak semua masalah juga harus dikubur dalam-dalam.
Lalu, apa langkah selanjutnya ketika seseorang mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu lama memendam semuanya?
Pertama, akui bahwa masalah itu ada.
Tidak perlu menyangkal atau berpura-pura kuat setiap saat. Mengakui keadaan bukan berarti lemah. Justru itu merupakan langkah awal untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Kedua, pilih orang yang tepat untuk bercerita.
Tidak semua orang harus mengetahui persoalan pribadi kita. Carilah seseorang yang dapat dipercaya, mampu menjaga privasi, tidak mudah menghakimi, dan benar-benar mau mendengarkan.
Ketiga, bedakan antara meminta dukungan dan membuka aib.
Bercerita kepada orang yang tepat untuk mendapatkan perlindungan, nasihat, atau pendampingan bukanlah tindakan mempermalukan diri sendiri. Ada kalanya seseorang membutuhkan keluarga yang dipercaya, pendamping profesional, tokoh yang aman dipercaya, atau lembaga yang memiliki kewenangan.
Keempat, mulai membangun batasan.
Setelah terlalu lama memendam, seseorang perlu belajar mengatakan apa yang bisa diterima dan apa yang tidak bisa lagi ditoleransi. Menjaga batasan adalah bagian dari menjaga diri.
Kelima, jangan terburu-buru mengambil keputusan ketika emosi sedang sangat tinggi.
Berikan ruang untuk berpikir, kumpulkan informasi yang diperlukan, dan jika persoalannya menyangkut keselamatan, kekerasan, atau persoalan hukum, carilah pendampingan dari pihak yang kompeten.
Yang paling penting, jangan merasa harus selalu terlihat kuat hanya agar orang lain menganggap hidup kita baik-baik saja.
Kita boleh menjaga privasi, tetapi kita juga berhak mendapatkan pertolongan.
Sebab terkadang, langkah pertama untuk bangkit bukanlah tersenyum lebih lebar, melainkan berani berkata:
“Aku sedang menghadapi masalah, dan kali ini aku tidak ingin menghadapinya sendirian.”
Sumber: Refleksi dan edukasi psikososial.
#AquilaIndonesia
#RubrikPerempuan #KesehatanMentalPerempuan
#KuatIstimewa
#SelfCarePerempuan







