AQUILA INDONESIA | RUBRIK SUARA PEREMPUAN
Di tulis oleh : NOVITA
Wartawan Media AQUILA Indonesia
Kepulauan Riau dan Batam
5 Oktober 2026
Pernikahan bukan sesuatu yang menakutkan. Yang menakutkan adalah ketika seseorang memasuki pernikahan dengan alasan yang keliru, sementara kesiapan hati, pikiran, tanggung jawab dan kemampuan belum benar-benar dimiliki.
Menikah karena nafsu, bukan karena hati.
Ketertarikan fisik bisa menjadi awal, tetapi tidak cukup untuk menjadi fondasi sebuah rumah tangga. Nafsu bisa berubah seiring waktu, sementara pernikahan membutuhkan kesetiaan ketika fisik tak lagi seperti dahulu, ketika kehidupan sedang sulit, dan ketika pasangan membutuhkan pengertian lebih daripada sekadar sentuhan.
Menikah karena mau, bukan karena mampu.
Keinginan untuk menikah itu mudah. Yang tidak mudah adalah menjalani tanggung jawab setelah akad. Mampu bukan berarti harus kaya, tetapi memiliki kesiapan untuk bertanggung jawab, bekerja sama, mengelola emosi, menghadapi masalah, serta memenuhi kebutuhan lahir dan batin sesuai kemampuan.
Menikah karena orang lain, bukan karena diri sendiri.
Jangan menikah hanya karena desakan keluarga, teman, usia, atau karena takut disebut terlambat. Orang lain mungkin ikut menyaksikan hari bahagia, tetapi mereka tidak akan menjalani seluruh perjalanan rumah tangga. Karena itu, keputusan menikah harus lahir dari kesadaran dan keyakinan pribadi, bukan sekadar memenuhi harapan orang lain.
Menikah karena waktu yang cepat, bukan karena waktu yang tepat.
Ada pernikahan yang dipaksakan karena takut kehilangan kesempatan. Padahal, cepat belum tentu tepat. Pernikahan membutuhkan waktu untuk mengenal karakter, nilai hidup, cara berpikir, cara menyelesaikan konflik, serta kesungguhan seseorang dalam menjalankan tanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan perlombaan siapa yang lebih dahulu menikah, melainkan perjalanan panjang tentang siapa yang mampu bertahan dalam kebaikan.
Jangan hanya bertanya, “Kapan menikah?”
Tetapi tanyakan pula, “Dengan siapa, untuk apa, dan sudah siapkah menjalani seluruh konsekuensinya?”
Karena pernikahan yang dimulai dengan kesadaran, kesiapan dan niat yang baik, insyaallah akan lebih kuat menghadapi perjalanan. Namun jika dibangun hanya karena dorongan sesaat, tekanan orang lain atau ketakutan terhadap waktu, sesuatu yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh justru bisa berubah menjadi ruang yang melelahkan.
Menikahlah ketika hati sudah cukup dewasa untuk mencintai, pikiran cukup bijaksana untuk memahami, dan diri cukup siap untuk bertanggung jawab.
Sebab akad hanya berlangsung sesaat, tetapi tanggung jawab setelahnya adalah perjalanan seumur hidup.
#SuaraPerempuan #Pernikahan #KesiapanMenikah #RumahTangga #AquilaIndonesia








