Bukan karena perempuan tak butuh sandaran. Ia hanya terlalu sering dipaksa menjadi sandaran bagi dirinya sendiri.

oleh

Di tulis oleh : NOVITA
Wartawan Media AQUILA Indonesia
Kepulauan Riau dan Batam
20 September 2026

Perempuan yang mandiri memang terlihat kuat. Bisa mencari nafkah, mengurus rumah, mengambil keputusan, bahkan menghadapi masalah tanpa banyak mengeluh.

Tapi jangan salah sangka.

Di balik semua kemampuan itu, tetap ada naluri seorang perempuan yang ingin merasa dilindungi, diperhatikan, dan memiliki seseorang yang bisa diandalkan.

Ia ingin menjadi tulang rusuk—bukan karena lemah, tetapi karena ia ingin menjalani hidup bersama seseorang yang mau berbagi beban.

Sebab kalau akhirnya perempuan harus menjadi tulang punggung sekaligus tulang rusuk dalam rumah tangganya, lalu untuk apa ada pasangan?

Jangan sampai seorang perempuan terlihat begitu kuat hanya karena pasangannya terlalu nyaman menjadi alasan mengapa ia harus kuat.

Sebab perempuan yang selalu berkata, “Aku bisa sendiri,” belum tentu sedang membanggakan kekuatannya. Bisa jadi, ia sedang menyembunyikan harapan sederhana: “Sekali saja, biarkan aku tidak perlu mengurus semuanya.”

Ia tidak meminta untuk dimanjakan setiap waktu. Ia hanya ingin tahu bahwa ketika dirinya lelah, ada seseorang yang tidak ikut menambah beban.

Ironisnya, sebagian orang baru menyadari nilai seorang perempuan setelah perempuan itu berhenti meminta, berhenti berharap, dan mulai terbiasa menjalani hidup tanpa melibatkan siapa pun.

Saat itulah jangan bertanya, “Kenapa sekarang dia begitu mandiri?”

Tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang membuatnya sampai merasa tidak punya pilihan selain menjadi kuat?”

Karena perempuan yang benar-benar dihargai bukan hanya diberi ruang untuk mandiri, tetapi juga diberi rasa aman untuk sesekali berkata, “Aku ingin bersandar.”

 

Tinggalkan Balasan