DARI WARUNG KOPI, KAPOLDA BARU MENANAM KEPERCAYAAN

oleh

Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Pemimpin Redaksi
AQUILA Media Group

Apresiasi untuk Kapolda Babel: Polisi Hadir, Masyarakat Merasa Aman

DARI WARUNG KOPI, KAPOLDA BARU MENANAM KEPERCAYAAN

Apresiasi untuk Kapolda Babel: Polisi Hadir, Masyarakat Merasa Aman

ADA yang menarik di pertengahan pekan kemarin yaitu langkah pertama Kapolda Kepulauan Bangka Belitung, Irjen Pol Agus Wijayanto, saat mengawali tugasnya.

Alih-alih langsung membangun kesan melalui seremoni kedinasan, ia memilih mendatangi warung kopi di Pangkalpinang, Rabu (21/10/2026), untuk berdialog dan menyerap aspirasi masyarakat.

Sederhana, tetapi bermakna.

Di Bangka Belitung, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Ia merupakan ruang perjumpaan, tempat kabar beredar, persoalan dibicarakan, dan suara masyarakat menemukan jalannya.

Mendatangi ruang seperti ini berarti membuka pintu komunikasi tanpa sekat formalitas.

Langkah tersebut layak diapresiasi, terutama karena Kapolda baru tidak hanya berbicara tentang keamanan sebagai urusan penegakan hukum, tetapi juga tentang bagaimana polisi seharusnya hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pesannya tegas: polisi harus membuat masyarakat merasa aman dan nyaman, bukan justru menimbulkan keresahan.

Di sinilah substansi penting dari pendekatan yang diperlihatkan Agus Wijayanto.

Polisi tidak cukup hanya hadir ketika kejahatan terjadi. Polisi juga perlu hadir sebelum persoalan membesar, mendengarkan sebelum mengambil kesimpulan, dan membangun kepercayaan sebelum meminta masyarakat bekerja sama.

KEKAYAAN ALAM, NARKOBA, DAN JUDI DARING

Dalam dialog tersebut, Kapolda menyoroti sejumlah persoalan strategis yang relevan bagi Bangka Belitung: pengamanan kekayaan alam, pemberantasan narkoba, dan penindakan judi online.

Ketiganya memiliki dimensi yang berbeda, tetapi bertemu pada satu kepentingan: melindungi masyarakat dan masa depan daerah.

Bagi provinsi yang memiliki kekayaan sumber daya alam, pengamanan tidak semestinya berhenti pada penindakan terhadap pelanggaran

Lebih jauh, hukum harus menjadi instrumen untuk memastikan kekayaan tersebut dikelola sesuai ketentuan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi negara serta kesejahteraan rakyat.

Karena itu, pengamanan kekayaan alam memerlukan ketegasan, profesionalitas, dan konsistensi.

Penegakan hukum harus berdasarkan bukti dan berlaku tanpa pandang bulu.

Sementara itu, narkoba bukan sekadar persoalan kriminalitas. Ia menyangkut kesehatan, masa depan generasi muda, ketahanan keluarga, dan kualitas sumber daya manusia.
Pemberantasannya membutuhkan penindakan terhadap jaringan peredaran, sekaligus pencegahan dan keterlibatan masyarakat.

Judi online pun demikian. Dampaknya tidak berhenti pada uang yang hilang. Ada risiko jeratan utang, konflik rumah tangga, gangguan pendidikan, dan rusaknya harapan anak-anak terhadap masa depan keluarganya.

Karena itu, komitmen Kapolda untuk menindak tegas judi online patut didukung.

Ketegasan tersebut perlu disertai langkah pencegahan, edukasi, dan penanganan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.

SEJALAN DENGAN SEMANGAT POLRI YANG MELAYANI

Dalam keterangannya, Agus Wijayanto menyebut pendekatan yang ditempuhnya merupakan tindak lanjut arahan Kapolri mengenai pentingnya membangun kedekatan antara polisi dan masyarakat.

Ia berharap pendekatan itu tidak berhenti di tingkat Polda, tetapi diterapkan secara berkelanjutan oleh Polres, Polsek, hingga pos-pos kepolisian di wilayah.

Pesan ini penting.

Sebab, keberhasilan membangun hubungan antara polisi dan masyarakat tidak ditentukan oleh satu kali kunjungan seorang Kapolda.

Ukurannya justru terlihat ketika semangat tersebut menjadi budaya kerja seluruh jajaran.

Apakah warga mudah menyampaikan pengaduan?

Apakah laporan ditangani secara profesional?

Apakah masyarakat memperoleh penjelasan yang layak?

Apakah penegakan hukum berlangsung adil?

Dan apakah anggota polisi di lapangan benar-benar memberikan rasa aman?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi ukuran yang lebih bermakna daripada sekadar ramainya pemberitaan tentang kedekatan polisi dengan warga.

Kapolda juga menaruh perhatian pada anak-anak sekolah.

Ia menginginkan polisi menjadi sosok yang membuat anak merasa nyaman, bukan figur yang ditakuti.

Harapan ini patut dicatat.

Kepercayaan kepada institusi publik idealnya tumbuh sejak dini, melalui pengalaman melihat aparat yang ramah, melindungi, dan bertindak adil.

MENDENGARKAN, MENGHUBUNGKAN, MENYELESAIKAN

Dalam dialog di warung kopi itu, Kapolda turut menerima aspirasi mengenai infrastruktur.

Ia menyatakan akan memfasilitasi penyampaiannya kepada pemerintah daerah agar ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing.

Sikap ini menunjukkan pentingnya komunikasi lintas lembaga.

Polisi memang bukan institusi yang bertanggung jawab menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan.

Namun, ketika masyarakat menyampaikan persoalan di ruang dialog bersama kepolisian, aspirasi tersebut dapat menjadi jembatan menuju pihak yang berwenang.

Di sinilah dialog publik memperoleh nilai tambah: bukan sekadar mendengarkan keluhan, melainkan membantu memastikan keluhan menemukan saluran penyelesaian yang tepat.

Tentu, tindak lanjutnya perlu dijaga agar tidak berhenti pada janji fasilitasi.

Masyarakat berhak mengetahui apakah aspirasi telah disampaikan, kepada siapa, dan bagaimana perkembangannya.

APRESIASI SEKALIGUS HARAPAN

AQUILA memandang positif langkah awal Kapolda Kepulauan Bangka Belitung yang memilih mendekatkan diri kepada masyarakat melalui dialog langsung.

Apresiasi ini bukan penilaian bahwa seluruh persoalan keamanan di Babel telah teratasi.

Ini adalah penghargaan terhadap pendekatan awal yang membuka ruang komunikasi dan menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Namun, kepercayaan publik tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh melalui konsistensi, integritas, keterbukaan, dan keadilan dalam tindakan.

Warung kopi dapat menjadi titik awal yang baik. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa semangat dialog itu berlanjut di ruang pelayanan kepolisian, di tengah masyarakat, dan dalam setiap keputusan penegakan hukum.

Sebab, polisi yang dekat dengan masyarakat bukan berarti polisi kehilangan ketegasan.

Sebaliknya, kedekatan harus berjalan bersama profesionalitas; keramahan harus seiring dengan integritas; dan ketegasan harus tetap berada dalam koridor hukum.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan seberapa sering polisi terlihat bersama masyarakat, melainkan seberapa besar masyarakat merasakan manfaat kehadiran polisi.

Dari warung kopi, kepercayaan boleh mulai ditanam. Namun, kepercayaan hanya akan tumbuh apabila komitmen dirawat dan dibuktikan melalui tindakan.

Semoga langkah awal Kapolda Babel menjadi awal yang baik bagi hubungan polisi dan masyarakat yang semakin terbuka, adil, dan saling percaya.

Karena keamanan bukan hanya tentang meniadakan ancaman, melainkan juga menghadirkan ketenteraman dalam kehidupan sehari-hari.

Polisi bersama masyarakat. Melindungi tanpa menakut-nakuti, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan mengabdi demi keselamatan serta kesejahteraan rakyat.
Semoga!

*)Agus Ismunarno merupakan wartawan utama yang membidani 6 media termasuk BANGKA POS Group dan memimpin 8 media di berbagai provinsi di Indonesia

Tinggalkan Balasan