Jokowi Pemenang “Nobel Perdamaian”!

oleh -

Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Wartawan Utama
AQUILA MEDIA GROUP

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah, ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin
(Fransiskus Asisi)

HARI HARI ini Presiden Jokowi semakin terpateri di hati warganya, warga dunia, termasuk saya. Joko Widodo yang sering dibuli sebagai plonga plongo dan kerempeng itu hari hari ini membuktikan diri; berdiri tegap perkasa, meletakkan keberaniannya di puncak dunia; mendamaikan Rusia Vs Ukraina.
Bagi saya Presiden Jokowi telah memenangkan “Nobel Perdamaian Dunia” dan menjadi presiden dunia paling pemberani tatkala pemimpin-pemimpin di bumi ini masih takut-takut bersinggungan dengan Presiden Putin, dengan negeri Rusia. Takut sanksi ini itu.

“Titisan Bung Karno” itu telah menggapai mahkota mutiara dan memahkotai diri di kepala spiritualitasnya. Kata Bung Karno, “Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Dan hari ini, di usia ke 61-nya Jokowi mengulang peristiwa 61 tahun lalu ketika Bung Karno melawat ke Rusia.

Presiden RI Joko Widodo – sebagaimana Bung Karno – telah menyelam sangat dalam di lautan konflik perang Rusia dan Ukraina dan memperjuangkan untuk menggapai mutiara perdamaian.

Taklukkan Rasa Takut

Nelson Mandela pernah berkata, “Saya belajar bahwa keberanian tidak akan pernah absen dari ketakutan. Tetapi mereka berhasil menang atas itu. Orang berani bukan mereka yang tidak pernah merasa takut, tapi mereka yang bisa menaklukkan rasa takut itu.” Dan orang berani itu adalah Presiden Jokowi.

Keberanian mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI itu memang dari “sononya” terlahir berani. Ketika Jokowi ingin mengunjungi warganya di pedalaman Papua, Panglima dan Kapolri menyarankan tidak usah saja karena factor keamanan. Tetapi Presiden Jokowi berkata, “Keamanan itu urusan kalian. Saya mau bertemu rakyat saya.”
Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam Aksi 212 atau demo 2 Desember yang sedang berlangsung di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2016). Presiden Jokowi langsung masuk ke dalam tenda VIP yang disediakan panitia Aksi Bela Islam III di Monas.

Dengan anggun Presiden Jokowi berada di episentrum demo, Kedatangan Jokowi pun langsung diumumkan oleh orator.. Pengumuman langsung disambut gemuruh teriakan jamaah. Mereka mengelu-elukan sang presiden sudah bersedia hadir dalam Aksi 212 tersebut. “Terima kasih Pak Presiden Jokowi sudah mau hadir dalam aksi 212 super damai ini. Allahu Akbar!” teriak orator dari atas podium.

Tahun 2018 Presiden Jokowi melawat ke Afghanistan dalam keadaan perang. Dikawal milter setempat tapi tidak mau mengenakan baju anti-peluru. Kini Jokowi ke Ukraina yang juga sedang berperang. “Gilanya” Presiden Jokowi mengajak Ibu Negara Iriana yang “gila” juga keberaniannya. Kita bangga..
Apakah urat takut Presiden Jokowi sudah putus? Tentu tidak. Dalam berbagai sejarah situasi konflik terburuk pun Presiden Jokowi selalu tampil anggun berwibawa seolah berkata: “Ampunilah mereka (pembencinya, red) sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya.”

Ketika menuju Ukraina dan Rusia, Joko Widodo yang kelahiran Jawa Tengah itu tidak takut sedikit pun karena dalam dirinya ia mewakili bangsa Indonesia. Joko Widodo telah “merasukkan” roh cinta damai Pembukaan UUD 45nya ke dalam dirinya.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.” Dan Presiden Joko Widodo mewujudkan visi misi perdamaian bangsa Indonesia itu bersama Ibu Negara Iriana yang tak kalah beraninya di puncak sejarah dunia.

Pasangan pemberani itu menyeruak di antara dua pasukan militer Rusia Vs Ukraina yang berperang, di tengah desingan peluru, “membungkam peluru” mendoakan perdamaian di pusat pertempuran yang paling menjadi perhatian dunia.

Tak Boleh Luntur

Jokowi menjelaskan kunjungannya ke Ukraina merupakan perwujudan kepedulian masyarakat Indonesia untuk Ukraina.

“Saya sampaikan ke Presiden Zelenskyy bahwa kunjungan ini saya lakukan sebagai manifestasi kepedulian Indonesia terhadap situasi di Ukraina,” kata Presiden Jokowi saat keduanya bertemu di Istana Maryinsky, Kyiv, Ukraina, pada Rabu, (29/6)

Presiden Jokowi menegaskan
meskipun masih sangat sulit dicapai, Presiden Jokowi juga tetap menyampaikan pentingnya penyelesaian damai dan mengatakan bahwa spirit perdamaian tidak boleh pernah luntur.

Presiden Joko Widodo tentu tidak sedang melakukan pencitraan dengan sejuta risiko itu. Ia adalah pribadi yang sudah keluar dari zona nyamannya, keluar dari ketakutan dirinya. Ia sudah menjadi Man of The Others, Man for Peacefull World, Man for the world. Jokowi bukan milik bumi lagi. Ia sudah menjadi bagian “Hidup Kekal” dalam terminologi Fransiskus Asisi.
Kehidupan Presiden Jokowi itu bagaikan bunga Dandelion sebagaimana digambarkan oleh Penulis Erisca Febriani.
“Hiduplah seperti bunga dandelion.
Dandelion tidak secantik mawar, tidak seindah lili, tidak seabadi edelweis. Dandelion tidak memiliki mahkota yang membuatnya tampak menarik. Dandelion juga tidak sewangi melati.

Tapi dandelion adalah bunga paling kuat. Dia tetap bisa tumbuh di antara rerumputan liar, di celah batu. Dandelion terlihat rapuh, tapi begitu kuat, begitu indah, begitu berani. Berani menentang sang angin, terbang tinggi, begitu tinggi mengarungi angkasa raya sampai akhirnya tiba di suatu tempat untuk dapat tumbuh membentuk kehidupan baru.”

Presiden Joko Widodo telah terbang tinggi, bagai Rajawali, Garuda bangsa ini: mengepak di ketinggian dunia dan dengan mata tajam perdamaiannya ia menukik dengan pasti, ke tanah Ukraina dan Rusia, bagai merpati membawa pesan damai di bumi. Kita tahu pasti; hati, spirit dan tindakan Presiden Jokowi telah memenangkan Nobel Perdamaian; di hati kita, di hati bangsa, bangsa dunia. Semoga!

Tinggalkan Balasan