Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Pemimpin Redaksi AQUILA Media Group
“Disiplin adalah sayap, bakat adalah angin—keduanya membuat mimpi terbang.”
DI SEBUAH kepulauan yang tahun 2005/2008 dikenal dunia melalui kisah novel/film sederhana namun menggugah dalam Laskar Pelangi, lahirlah seorang anak yang kelak akan belajar memaknai cahaya dengan caranya sendiri.
Bukan cahaya lampu sorot yang menyilaukan, tetapi cahaya yang lahir dari kejujuran perasaan.
Namanya: Titan Sammy Alhafiz
Ia bukan anak yang banyak bicara. Di keseharian, Titan lebih menyerupai laut di pagi hari—tenang, tidak tergesa, dan seolah menyimpan banyak hal yang tidak selalu perlu diucapkan.
Namun siapa pun yang pernah melihatnya berdiri di depan kamera akan memahami satu hal: ada jiwa lain yang bangkit dalam dirinya.
Jiwa yang hidup
Di depan kamera, Titan tidak “bermain peran”. Ia “menjadi”.
Ia tidak mengejar kesempurnaan teknis sebagaimana aktor-aktor dewasa yang terlatih dengan teori dan metode. Ia tidak sibuk menghafal emosi. Ia hanya menghadirkan apa yang ia rasakan. Dan di situlah keajaiban itu terjadi.
Aktingnya jujur.
Natural. Dan sering kali—tanpa disadari—membawa kejenakaan yang membuat sebuah adegan terasa hidup seperti kehidupan itu sendiri.
Bukan karena ia selalu memerankan tokoh utama. Justru sebaliknya.
Dalam banyak film, Titan hadir sebagai bagian kecil dari cerita sejak ia SD hingga SMP. Namun seperti garam dalam masakan, kehadirannya tidak selalu terlihat—tetapi terasa.
Dan rasa itu… mengubah segalanya.
Perjalanan Titan tidak berdiri sendiri. Di belakang seorang anak yang bersinar, selalu ada tangan-tangan yang membentuk, membimbing, dan menjaga agar cahaya itu tidak padam.
Salah satu tangan itu adalah Afik Hariyadi—seorang mantan anggota Polri Polda Kepulauan Bangka Belitung yang memilih berjalan di dua dunia: disiplin hukum dan kebebasan kreatif.
Sekarang Afik total memilih jalan dunia industri kreatif.
Mencipta Ekosistem
Sebagai CEO AFICI Entertainment, Afik tidak sekadar memproduksi film. Ia membangun ekosistem.
Ia melihat potensi di anak-anak muda yang tumbuh bersama teknologi—para influencer, kreator, dan generasi digital—lalu menuntun mereka melangkah ke dunia layar lebar.
Di tangannya, kamera bukan hanya alat. Ia adalah jendela.
Dan dari jendela itulah, Titan pertama kali belajar melihat dirinya sendiri.
Namun kamera membutuhkan mata lain untuk memberi arah. Dan di situlah hadir sosok Banu Rambang atau terkenal dengan nama Bram Ferino, sutradara muda yang tidak hanya mengarahkan adegan, tetapi juga membimbing jiwa.
Bagi Titan, Bram Ferino bukan sekadar sutradara. Ia adalah guru.
Pendekatannya edukatif. Ia tidak memaksa anak-anak untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Ia justru menggali apa yang sudah ada di dalam diri mereka, lalu membantu mereka menampilkannya dengan jujur.
“Jangan akting,” mungkin itu yang tak terucap namun terasa.
“Jadilah dirimu sendiri.”
Dan Titan… melakukannya.
Dalam perjalanan itu, Titan tidak berjalan sendirian di panggung perfilman. Ia pernah berbagi layar dengan nama-nama besar seperti Mathias Muchus, Yati Surahman, Lilis Suganda, Clarice Cutie,Egi Fedly, Leon Dozen, Ferly Putra, dan Zidane Elhafiz—tokoh-tokoh yang telah lama menjadi pilar industri perfilman Indonesia.
Namun yang paling membekas bagi Titan bukanlah ketenaran mereka.
Melainkan kerendahan hati mereka.
Bahwa menjadi besar tidak harus meninggalkan kelembutan.
Bahwa menjadi hebat tidak berarti berhenti membimbing yang kecil.
“Bangga dan bahagia bermain bersama aktor aktris terkenal itu. Mereka membimbing,” ungkap Titan.
Di situlah Titan belajar—bahwa dunia seni bukan hanya tentang tampil, tetapi tentang menjadi manusia yang utuh.
Lingkungan membentuk anak. Dan lingkungan Titan adalah dunia yang hidup dalam ritme kamera, dialog, dan cerita.
Namun di tengah semua itu, ada satu prinsip yang dijaga dengan penuh kesadaran: kedewasaan tidak selalu harus dipercepat.
Bijak di Era Digital

Di era ketika banyak anak seusianya tenggelam dalam arus media sosial, Titan justru dibimbing untuk membatasi diri. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena ingin tumbuh dengan utuh.
Peran itu dipegang erat oleh sang ibu Desi Astuty.
Dengan kesabaran yang mungkin tidak selalu terlihat oleh publik, Mama Titan menjadi penjaga gerbang dunia digital anaknya dalam perfilman maupun bermedia sosial. Ketika Pemerintah RI membatasi usia memiliki akun medsos, ibu dan anak setia.
Ia mengajarkan bahwa popularitas bukan tujuan. Bahwa dunia maya adalah alat, bukan tempat untuk kehilangan diri.
Di rumah, Titan tetap anak.
Bukan konten.
Dari sang ayah, Suhardi—seorang anggota Polri—Titan mewarisi sesuatu yang berbeda: disiplin.
Di balik dunia seni yang penuh kebebasan, Titan belajar tentang keteraturan. Tentang tanggung jawab. Tentang menghargai waktu dan proses.
Ia belajar bahwa mimpi tidak cukup hanya dirasakan.
Ia harus dijaga dengan kebiasaan.
Dan dari dua dunia itu—kelembutan ibu dan ketegasan ayah—Titan tumbuh seimbang.
Kebahagiaan Titan sederhana.
Ia tidak berbicara tentang penghargaan. Tidak pula tentang ketenaran. Wajahnya justru paling bersinar ketika ia duduk di antara teman-temannya dalam sebuah bioskop, – entah XXI atau di bioskop di Ibukota Provinsi, Kota dan Kabupaten, menonton film yang ia bintangi bersama mereka.
Film-film seperti Buyut, Tari Kematian, Mencadin, Korban Jatuh Tempo hingga Habis Gelap Terang kan Datang bukan sekadar karya. Film film itu adalah jejak.
Jejak kecil dari seorang anak yang sedang belajar mengenal dirinya.
“Bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari dunia peran…” katanya suatu ketika.
Kalimat yang sederhana, namun jujur.
Dan kejujuran—sekali lagi—adalah kekuatan terbesarnya.
Menggapai Cita-cita
Kini Titan berada di persimpangan baru.
Ia tidak hanya belajar di sekolah. Ia juga mengingat pesan dari aktor senior Om Mathias Muchus agar merawat tubuhnya—berlari, berenang, jogging. Sebuah kesadaran yang jarang dimiliki anak seusianya: bahwa tubuh adalah rumah bagi mimpi dan cita-cita.
Ketika ditanya tentang masa depan, jawabannya tidak berisik. Tidak muluk.
Ia hanya berkata, “Ingin masuk SMA Garuda, Belitung.”
Sebuah tempat yang dikenal tidak hanya menguji kecerdasan, tetapi juga membentuk karakter: spiritualitas, kebangsaan, dan ketahanan jasmani.
Pilihan itu menunjukkan sesuatu: Titan tidak hanya ingin menjadi aktor.
Ia ingin menjadi manusia yang utuh.
Dalam dunia yang sering tergesa mengejar hasil, kisah Titan mengingatkan kita pada sesuatu yang hampir terlupakan: proses adalah bagian dari keindahan itu sendiri.
Ia belum sampai di puncak.
Ia bahkan mungkin baru memulai.
Namun justru di situlah nilai kisah ini.
Bahwa tidak semua inspirasi harus datang dari mereka yang telah selesai.
Kadang, inspirasi terbesar datang dari mereka yang sedang berjalan.
Titan Sammy Alhafiz adalah cerita tentang keseimbangan.
Tentang anak yang hidup di antara kamera, pendidikan dan keluarga.
Antara mimpi dan disiplin.
Antara kebebasan berekspresi dan batasan yang bijak.
Ia adalah bukti bahwa dunia seni tidak harus memisahkan anak dari masa kecilnya. Bahwa popularitas tidak harus menghapus kesederhanaan.
Dan mungkin, di masa depan, ketika namanya semakin dikenal luas, orang akan berkata:
“Lihat, ia hebat.”
Namun mereka yang mengikuti perjalanannya sejak awal akan berkata:
“Tidak. Ia bukan hanya hebat.
Ia jujur.”
Dan dalam dunia yang sering penuh kepura-puraan—
kejujuran adalah bentuk tertinggi dari keindahan.
Sukses, Titan.
Langkahmu bagimu mungkin kecil hari ini,
tetapi arahmu… sudah benar. Semoga!
“Anak yang dijaga dengan bijak, akan bersinar tanpa kehilangan dirinya.”






