Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Pemimpin Redaksi
AQUILA Media Group
KALIMAT-nya sederhana, tetapi dapat menjadi sangat dalam ketika dijadikan kompas sebuah institusi negara:
“Polisi Bersama Masyarakat.”
Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, setelah resmi menjadi Kapolri, membawa gagasan itu sebagai arah kepemimpinannya. Ia menempatkan peningkatan pelayanan publik, penegakan hukum yang adil, kedekatan dengan masyarakat, serta konsolidasi internal sebagai bagian penting dari langkah awalnya.
Sederhana kalimatnya.
Tidak sederhana tanggung jawab di belakangnya.
Sebab polisi bukan sekadar aparat yang datang ketika kejahatan terjadi. Polisi adalah salah satu wajah negara yang paling sering bersentuhan langsung dengan rakyat.
Di jalan raya.
Di kantor polisi.
Di tengah masyarakat.
Di rumah korban.
Di tempat kejadian perkara.
Bahkan ketika seorang warga datang membawa persoalan yang mungkin bagi negara terlihat kecil, tetapi bagi dirinya merupakan seluruh kehidupannya.
Karena itu, kedekatan polisi dengan masyarakat bukan sekadar kosmetika kelembagaan. Ia adalah inti dari kehadiran negara.
“Bersama” juga memiliki makna penting.
Bukan polisi di atas masyarakat.
Bukan pula polisi sekadar untuk masyarakat.
Tetapi polisi bersama masyarakat.
Bersama berarti mendengar sebelum bertindak.
Bersama berarti hadir sebelum masalah membesar.
Bersama berarti memahami keresahan sebelum masyarakat berteriak.
Di sinilah pelayanan publik dan penegakan hukum bertemu.
Polisi dapat tegas tanpa kehilangan kemanusiaan.
Polisi dapat humanis tanpa kehilangan kewibawaan.
Salah satu gagasan yang juga mengemuka adalah menghapus fenomena “no viral, no justice”.
Masyarakat semestinya tidak harus membuat sebuah perkara menjadi viral terlebih dahulu agar memperoleh perhatian.
Sebab:
Negara tidak boleh baru mendengar setelah masyarakat berteriak.
Media sosial boleh menjadi ruang kontrol publik. Tetapi sistem negara harus memiliki pintu depan yang bekerja.
Maka ukuran keberhasilan Polri Bersama Masyarakat kelak bukan hanya berapa banyak perkara diungkap atau operasi dilakukan.
Ukuran yang lebih mendasar adalah:
Apakah masyarakat merasa didengar?
Apakah korban merasa dilindungi?
Apakah pencari keadilan merasa dilayani?
Apakah hukum hadir tanpa melihat siapa yang berhadapan dengannya?
Di sinilah visi harus turun menjadi kultur.
Dan kultur tidak dibangun melalui slogan.
Ia dibangun melalui ribuan tindakan kecil setiap hari.
Seorang warga datang membuat laporan.
Seorang korban membutuhkan perlindungan.
Sebuah keluarga mencari rasa aman.
Di sana tidak ada podium.
Tidak ada pidato.
Yang ada hanya satu pertanyaan:
Apakah negara hadir?
Jika jawabannya ya, maka visi telah berubah menjadi pengalaman.
Dan pengalaman itulah yang melahirkan kepercayaan.
Pada akhirnya, Polri Bersama Masyarakat bukan hanya bermakna polisi yang semakin dekat dengan rakyat.
Ia juga bermakna negara yang semakin terasa dekat.
Mendengar. Melayani. Melindungi. Menegakkan hukum. Memperbaiki diri. Membangun kepercayaan.
Karena jabatan Kapolri boleh berganti.
Tetapi tanggung jawab negara kepada masyarakat tidak pernah berganti. Semoga!
AQUILA Media Group
Fly and Down to Earth Together with You






