* Reformasi Polri dari Babel
Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Pemimpin Redaksi AQUILA Media Group
*The Journey of Life
PERISTIWANYA terjadi di akhir tahun 2025, tepatnya 24 Desember. Konten inti peristiwanya termasuk kaleidoskop AQUILA Media Group. Alasannya, esensi dalam peristiwa itu akan mengubah way of life kita dalam mengelola kehidupan di Kepulauan Bangka Belitung, bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia manakala kita setia pada filosofi kehidupan kita.
Panggung peristiwanya adalah ketika Kapolda Bangka Belitung Irjen Pol Viktor T. Sihombing resmi menutup Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri Tahun Anggaran 2025, Rabu (24/12/25) pagi.
Pelantikan 78 Remaja Bintara Polri itu digelar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Babel yang dihadiri sejumlah unsur Forkopimda, Wakapolda Brigjen Pol Tony Harsono serta seluruh Pejabat Utama Polda Babel.
Maknanya: Peristiwa di SPN ini menjadi panggung kecil untuk remaja Polri, namun bagi saya seyogyanya menyala dan berkobar di hati anggota Polri se NKRI yang hari-hari ini sedang pula menyalakan api Reformasi Polri.
Kapolda Babel yang sebelumnya menjabat Kadivkum Polri ini menyalakan api reformasi versi internal Polri dengan “menusukkan pedang edukasi” ke jantung nurani dengan mengatakan menjadi Polisi adalah suatu panggilan pengabdian untuk berbakti kepada nusa dan bangsa.
Bintara Polri yang baru dilantik (dan semestinya seluruh anggota Polri, red) dapat menjaga marwah institusi Polri serta lembaga pendidikan.
Para Bintara Polri (dan semestinya seluruh anggota Polri, red) tandas Viktor, harus memegang teguh profesional, bermoral dan modern yang melindungi dan mengayomi masyarakat.
“Polisi sebagai penjaga kehidupan harus profesional, cerdas, bermoral dan modern yang mampu mendukung, melindungi dan melayani bagi warga yang produktif. Maka disinilah peran Polisi dalam pemolisiannya adalah memberikan jaminan keamanan dan rasa aman,”ungkap Irjen Pol Viktor
Backing Ilegal, No!
Jenderal Bintang Dua Polri ini mengingatkan agar tidak melakukan hal-hal yang kontra produktif seperti pemerasan, menerima suap hingga menjadi backing hal-hal ilegal.
Polisi: Jalan Hidup
Sikap, karakter elementer serta filosofi kehidupan Polri ditegaskan oleh Viktor: Polisi didalam pemolisiannya adalah untuk memberikan pelayanan kepada publik serta menjadi penolong bagi masyarakat.
“Yang harus diingat dengan baik bahwa Polisi adalah jalan hidup dan ini panggilan hidup. Jiwa Polisi adalah penolong dan bagaimana memberikan yang terbaik dan kita semua adalah petugas yang menjaga sistem nasional agar bangsa ini tetap berdaulat, berdaya tahan dan mampu berdaya saing,” tegasnya.
Terakhir, Irjen Pol Viktor berharap para Bintara Polri dapat menjadi Polisi-polisi yang memiliki keahlian dan kemampuan yang berbasis pada ilmu Kepolisian dan moral yang tinggi.
“Jaga nama baik, terus menjadi orang yang sehat jiwanya, bahagia, cerdas dan terus mengembangkan kebaikan. Tiada hari tanpa kebaikan yang kita lakukan dan tiada hari tanpa perbaikan karena kita semua sadar inilah tanggung jawab kita, kecintaan kita kepada bangsa, negara dan masyarakat serta institusi Polri,” tegas Viktor dalam pesan akhirnya.
Etik–Filosofis
PESAN-PESAN etik-filosofis Kapolda Viktor bahwa
“Polisi adalah jalan hidup dan panggilan hidup,” menjadi sangat kuat, dan sangat relevan di tengah kehendak publik akan terjadinya reformasi Polri. Dan bagi saya, reformasi yang terbaik sejatinya adalah reformasi versi Polri sendiri dengan kembali ke kittahnya.
Dalam kerangka reflektif–argumentatif, bukan sekadar normatif institusional;
1. “Jalan Hidup”: Polisi sebagai Etos, Bukan Sekadar Profesi
Dalam tradisi pemikiran etik, jalan hidup (way of life) berarti pilihan eksistensial. Ia bukan kontrak kerja, melainkan komitmen seumur hidup terhadap nilai.
Jika polisi dipahami sebagai jalan hidup, maka:
Seragam bukan sekadar atribut,
Pangkat bukan sekadar hierarki,
Wewenang bukan sekadar kekuasaan,
melainkan amanah moral yang melekat bahkan ketika jam dinas usai.
Di titik ini, Kapolda Viktor sedang menggeser paradigma:
dari policing as job → policing as vocation.
Ini penting, karena krisis Polri hari ini bukan krisis struktur semata, tetapi krisis makna. Banyak penyimpangan lahir bukan karena kurang aturan, tetapi karena hilangnya kesadaran bahwa menjadi polisi berarti hidup dalam disiplin moral terus-menerus.
2. “Panggilan Hidup”: Polisi dan Etika Pelayanan Publik
Istilah panggilan hidup (calling / vocation) memiliki akar kuat dalam:
etika agama (pelayanan),
filsafat humanisme,
bahkan konsep dharma dalam tradisi Timur.
Maknanya satu:
👉 hidup diabdikan untuk kepentingan yang lebih besar dari diri sendiri.
Ketika Kapolda menegaskan polisi sebagai penolong, pelayan, penjaga kehidupan, ia sedang menempatkan Polri:
bukan sebagai alat kekuasaan,
bukan sebagai pemilik otoritas koersif,
melainkan penjaga keberlangsungan kehidupan sosial.
Di sinilah relevansinya dengan reformasi:
Reformasi Polri tidak akan bertahan bila hanya mengubah prosedur,
tetapi akan kokoh bila mengubah jiwa pemolisian.
3. Relevansi Langsung dengan Kehendak Reformasi Publik
Publik hari ini menuntut:
Polri bersih,
Polri humanis,
Polri berpihak pada keadilan, bukan kekuasaan.
Pernyataan Kapolda Viktor justru sejalan dengan tuntutan itu, karena ia:
menolak pemerasan,
menolak suap,
menolak backing ilegal,
yang semuanya lahir dari mentalitas polisi sebagai “pekerjaan” untuk keuntungan, bukan sebagai panggilan hidup.
Dengan kata lain, ini bukan pidato defensif, melainkan norma etik reformis dari dalam institusi.
Catatan Kritis: Publik
Keindahan eksistensial Polda/Polri digemakan oleh Kapolda Viktor. Tentu saja dengan penuh hormat, publik juga akan berkata jujur: “Pesan-pesan etik-filosofis Kapolda itu indah, tapi apakah akan hidup dalam praktik/praksis kehidupan?”
Di sinilah tantangan sesungguhnya:
Apakah jalan hidup itu diterjemahkan dalam sistem promosi?
Apakah panggilan hidup dilindungi dari tekanan kekuasaan?
Apakah polisi yang lurus justru diberi ruang, bukan disingkirkan?
Maka kalimat Kapolda Viktor ini bukan akhir, tetapi:
janji moral yang harus diuji oleh waktu, kebijakan, dan keberanian internal Polri sendiri.
5. Kesimpulan Reflektif
Kalimat “Polisi adalah jalan hidup dan panggilan hidup” adalah:
pernyataan etik,
deklarasi moral,
sekaligus cermin bagi Polri.
Jika dihidupi, ia menjadi fondasi reformasi sejati.
Jika diabaikan, ia akan menjadi kutipan indah yang dilupakan sejarah.
Dan publik hari ini—lebih dari sebelumnya—sedang menunggu dan berharap: Polri memilih hidup dalam makna, bukan sekadar bertahan dalam simbol. Semoga!
*The Journey of Life adalah artikel penulis dalam rangka 65 Th HUT, 35 Th Insan Pers NKRI dan 25 Th Berkarya Jurnalistik di Babel. Sejak 1993-sekarang pernah memimpin 7 Media di 5 Provinsi.






