(Sulaman untuk mengenang suara lembut Vidi Aldiano tentang Cinta)
Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Wartawan Utama
AQUILA Media Group
ADA SAAT dalam hidup ketika manusia sadar bahwa kesalahan kecil dapat menggelapkan seluruh langit hubungan. Lagu yang dinyanyikan Vidi seperti pengakuan seorang manusia yang menyesal, lalu mengetuk pintu cinta dengan suara yang hampir berbisik:
“Cinta jangan kau pergi…”
Kalimat itu sederhana. Tetapi di dalamnya ada ketakutan terdalam manusia: hidup tanpa cinta.
Sebab tanpa cinta, rumah hanya bangunan.
Tanpa cinta, kata-kata hanya bunyi.
Tanpa cinta, hidup menjadi rangka hari-hari yang kosong.
St Paul pernah menulis sesuatu yang seolah menjawab jeritan hati dalam lagu itu. Cinta, katanya, sabar dan murah hati.
Cinta tidak cemburu dan tidak memegahkan diri.
Cinta tidak sombong dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Cinta menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, berharap segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu.
Itulah sebabnya manusia selalu memanggil cinta agar tidak pergi.
Karena ketika cinta tinggal, amarah bisa luluh.
Ketika cinta tinggal, kesalahan masih bisa dimaafkan.
Ketika cinta tinggal, dua hati yang retak masih dapat dijahit kembali.
Mungkin dalam lagu itu Vidi Aldiano sedang merayu istrinya.
Tetapi dalam kehidupan yang lebih luas, setiap manusia sebenarnya sedang berkata kepada kehidupan:
“Cinta… jangan kau pergi.
Tanpa engkau, hidup ini kehilangan makna.”
Dan mungkin itulah pesan yang diam-diam dititipkan melalui suara lembut Vidi:
bahwa manusia boleh kaya, boleh terkenal, boleh berhasil — tetapi jika cinta hilang dari hatinya, semuanya menjadi hampa.
Karena pada akhirnya, seperti yang ditulis St Paul:
Yang terbesar dari semuanya adalah cinta. Semoga!







