Oleh: Agus Ismunarno Cakraputra
Pemimpin Redaksi AQUILA Media Group
SAJAK RAJAWALI, WS Rendra
Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
Dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan
tanpa sukma
Tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi
memasuki sepi
memandang dunia
Rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
Dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka
(W.S. Rendra, Kompas, 5 Agustus 1979).
APAKAH ROCKY Ditaklukkan?
Ada yang menarik dari langkah Presiden Prabowo Subianto mengangkat Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Rocky yang selama bertahun-tahun berdiri di luar kekuasaan, mengkritik dari kejauhan, kini justru duduk di dalam ruang kekuasaan.
Ketika ditanya wartawan mengapa menerima tawaran itu, jawabannya pendek:
“Apa alasan gue menolak?”
Sederhana. Tetapi politik jarang sesederhana kalimatnya.
Maka muncullah pertanyaan nakal:
Apakah Rocky masuk Istana karena kekuasaan memanggil kritik—atau karena kritik akhirnya masuk ke dalam kekuasaan?
Di sinilah metafora “Rajawali” menjadi menarik.
Dalam imajinasi kebudayaan kita, rajawali adalah burung yang terbang tinggi, melihat jauh, dan tidak mudah dikurung. Sementara nuri lebih dekat dengan metafora suara yang mengulang apa yang didengarnya.
Pertanyaannya kemudian:
Ketika rajawali masuk Istana, apakah ia tetap rajawali? Ataukah ia mulai belajar menjadi nuri? Rocky ditaklukkan? Terlalu dini mengatakannya.
Sebaliknya, usai pelantikan, ia mengatakan dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam dan sikap serta pandangannya tetap.
Maka yang menarik justru bukan pernyataan Rocky hari ini.
Yang menarik adalah pembuktiannya nanti.
Sebab kritik dari luar memiliki kemerdekaan tertentu.
Ia tidak mempunyai kewajiban mempertimbangkan seluruh beban keputusan negara dari dalam. Sementara kritik dari dalam menghadapi keadaan yang berbeda: ia mengetahui lebih banyak, tetapi juga berada lebih dekat dengan kekuasaan.
Di situlah ujian Rocky.
Apakah kedekatan menghasilkan kedalaman atau sebaliknya?
Kekuasaan memang mempunyai daya gravitasi. Semakin dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, semakin besar kemungkinan perspektifnya ikut dipengaruhi oleh realitas kekuasaan.
Tetapi manusia bukan benda mati.
Seorang intelektual justru diuji ketika ia memperoleh kesempatan berada di ruang yang selama ini ia kritik.
Karena itu, pertanyaan “Rocky ditaklukkan?” belum mempunyai jawaban.
Bahkan mungkin pertanyaannya keliru.
Yang lebih tepat:
Apakah Rocky mampu menaklukkan godaan untuk menjadi sekadar bagian dari kekuasaan?
Dan lebih jauh lagi:
Apakah Istana mampu menerima Rocky tanpa mengubahnya menjadi Rocky yang lain?
Di sinilah langkah Prabowo juga menarik.
Presiden tidak hanya mengangkat orang-orang yang sudah berada di dalam orbit pemerintahan. Ia memasukkan figur dengan identitas publik yang kuat sebagai pengkritik. Komposisi 26 Wantimpres itu sendiri berasal dari beragam latar belakang dan pengalaman.
Maka mungkin kita sedang menyaksikan eksperimen demokrasi yang sederhana tetapi penting:
kritik tidak dibungkam; kritik dipanggil masuk.
Namun panggilan masuk belum tentu berarti kebebasan kritik terjamin.
Demikian pula, menerima jabatan belum berarti seseorang telah menyerahkan independensi pikirannya.
Semua itu baru bisa dibaca dari waktu.
Dari apa yang dikatakan Rocky ketika tidak ada kamera dan terutama dari keberaniannya mengatakan “tidak” ketika menurut pertimbangannya negara memang membutuhkan kata “tidak”.
Sebab rajawali tidak dibuktikan oleh bentang sayapnya ketika terbang bebas.
Ketika rajawali berada di dalam ruang yang terbatas: apakah ia masih mencari langit?
Dan publiklah yang kelak menjadi saksi:
Rajawali tetap rajawali—atau perlahan berubah menjadi nuri.






